Smyrna, sekarang Izmir Setelah Efesus, Smirna adalah yang kedua yang disapa oleh Roh Tuhan. Ini tidak mengherankan. Di dalam segala hal, keduanya bersaing ketat. Bila Efesus adalah yang "terbesar dan tersibuk,"Smirna adalah yang "teranggun dan terelok." Orang menamainya "kembang Asia." Kadang-kadang, "mahkota Asia." Aristides, dalam lirik pujiannya tentang kota ini, menulis, "Keagungannya menjangkau setiap relung bagaikan lengkung pelangi, kemilaunya menggapai sorga, menelusupi setiap rongga, berbinar-binar bagaikan pedang tembaga di tangan Homer" Yang membuat Smirna lebih menarik lagi adalah karena ia merupakan kota yang paling terencana, tidak awut-awutan seperti kota-kota kita. Bisa begitu, karena Lychimus membangunnya dari puing-puing kota lama yang telah 400 tahun luluh lantak akibat diguncang gempa dahsyat. Jadi tidak kebetulanlah bila Tuhan memperkenalkan diri kepada jemaat di Smirna sebagai "Yang telah mat...
hal-hal apa saja yang berputar-putar dalam kepalaku